Kamis, 18 November 2021

MENGENAL KERIANG BANDONG & TANGLONG

(Festival Bangunin Sahur, Photo By Fellimeido)


"Keriang adalah sejenis bintang yang mengeluarkan buny khas di malam hari.
Keriang suka dengan cahaya dan datang berbondong-bondong.
Mungkin dari situlah namanya diambil, jadi Keriang Bandong."


Keriang Bandong adalah permainan rakyat yang berupa penyalaan sejenis obor dari bambu kecil yang diberi sumbu dan diletakkan di halaman rumah-rumah pada malam hari sepanjang bulan Ramadhan. Tradisi ini muncul karena kondisi penerangan pada malam hari tidak seperti pada saat ini. Menurut legenda, penyalaan Keriang Bandong ini untuk menghalau gangguan dari makhluk halus, namun terlepas dari alasan mistis fungsi utama adalah untuk penerangan bahkan konon dengan cara demikian akan membuat riang anak-anak dan tidak menakutkan untuk jalan pulang ke rumah seusai shalat tarawih.

Sedangkan Tanglong tak ubahnya dengan lampion. Fungsinya sama saja, untuk penerangan. Akan tetapi dibuat sedemikian rupa sehingga menarik. Dibutuhkan kreatifi tas untuk membuatnya. Biasanya terbuat dari lidi sagu sehingga mudah ditekuk, atau bambu dan kertas minyak. Namun belakangan, kertas putih dan plastik aneka tan warna juga digunakan dalam pembuatannya. Bentuknya juga sangat beragam, seperti kelinci, pesawat, ikan, bunga mawar, burung Enggang, perahu Lancang Kuning dan banyak lagi. Zaman dahulu, Tanglong selalu diisi dengan lampu minyak. Saat ini untuk Tanglong kecil, bisa juga dipergunakan lilin sebagai penerangannya.

Oleh anak-anak, Keriang Bandong diarak, lalu diadu. Sembari berdendang lagu khusus. Tanglong yang kuat, dan tidak mengalami kerusakan parah-lah yang menjadi pemenangnya. Tradisi ini kian meredup seiring perubahan zaman dan anak-anak su dah tidak lagi Keriang Bandong sembari berdendang lagu khusus tersebut. Keriang Bandong kini lebih banyak dipajang dan sekadar menjadi hiasan yang disimpan di halaman rumah atau teras saat malamn likuran. Namun saying, saat ini sudah tidak banyak lagi warga yang membuatnya, kalau pun ada biasanya digang-gang lebih suka menggunakan lampu kelap kelip yang dirangkai membentuk suatu objek.

Signifikansi Budaya
Jika ditelisik dari bentuk dan namanya Tanglong bukan produk asli budaya Melayu, ini adalah akulturasi lampion dari masyarakat tionghoa.Fungsi Tanglong dipakai sebagai aksesori beranda dan halaman rumah. Sama dengan Keriang Bandong, Tanglong oleh masyarakat dewasa ini juga banyak dipasang saat malam likuranan menjadi mainan favorit anak-anak kampung di malam bulan puasa, khususnya malam 21 (likuran) sampai malam takbiran.

Menurut cerita ini dilakukan untuk menyambut kedatangan para malaikat yang turun dari langit, dengan kerlap-kerlip cahaya Keriang Bandong berharap agar para malaikat berkenan mencatat amal kita dimalam seribu bulan. Seiring berjalannya waktu, Keriang Bandong tak hanya mengandalkan bambu sebagai bahan utama dan bentuknya pun semakin indah. Ditambah dengan hiasan yang dibentuk dengan bahan dasar tambahan kertas minyak. Bentuk nya pun beragam, ada yang dibuat seperti ketupat dan lain-lain yang disebut dengan nama Tanglong.

Tanglong ini nama lain yang muncul karena modifikasi dari Keriang Bandong namun dalam penyebutan tetap bermakna sama. Bentuk Tanglong sendiri jika diperhatikan menyerupai lampion, dan seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa hal ini ini dipengaruhi masuknya budaya Tionghoa di Kalimantan Barat.

Jika meminjam istilah pujangga, Keriang Bandong telah menjelang senja, artinya tradisi ini mulai redup bahkan sirna. Wujudnya diganti dengan bentuk kekinian seperti lampu kerlap-kerlip. Namun tidak demikian di beberapa kampung dipinggiran kota, tradisi ini masih berlangsung meskipun tidah semeriah dulu. Untuk menghidupkan tradisi ini maka saat Ramdhan mulai digalakkan tradisi Keriang Bandong dan Tanglong dalam bentuk lomba dan festival.

6 komentar:

MENGENAL SENJATA TRADISONAL "MENYUMPIT"

Sumpit atau sumpitan atau juga di sebut sipet adalah senjata khas masyarakat Dayak yang cara menggunakannya dengan ditiup, terbuat dari kayu...