Sumpit atau sumpitan atau juga di sebut sipet adalah senjata khas masyarakat Dayak yang cara menggunakannya dengan ditiup, terbuat dari kayu sepanjang 1-3 meter, terdiri dari tiga bagian, yaitu batang sumpit (berbentuk pipa), anak sumpit (damek) dengan racun pada matanya, dan mata tombak (sangkoh) terbuat dari logam atau batu gunung. Sangkoh ini dipasang di ujung batang sumpit dengan fungsi seperti sangkur pada senapan, yakni sebagal senjata cadangan yang dipergunakan pada pertempuran jarak dekat.
Boleh percaya atau tidak, Senjata yang mampu mencapai sasaran tembak hingga 200 meter ini lebih ditakuti daripada senjata api oleh Belanda pada jaman penjajahan dulu, sehingga karenanya pendudukan Belanda di pulau kalimantan hanya mencakup bebarapa wilayah kalimantan kota, dan tidak mampu menyentuh pedalaman Kalimantan di mana masyarakat Dayak tersebar. Senjata ini tidak menimbulkan kegaduhan sebagaimana umumnya senjata-senjata jarak jauh, baik saat ditembakkan maupun saat mengenai sasaran. Dengan racun mematikan, sumpit dirancang bukan sekedar untuk melumpuhkan sasaran tembak, melainkan untuk membunuh. Karena itulah pada masa Itu muncul julukan "pasukan hantu" bagi gerilyawan Dayak, dan sumpit itulah yang menjadi senjatanya.
Referensi tentang asal usul sumpit belum dapat dipastikan, namun dengan studi etnoarkeologi yang berkaitan dengan pola hidup di pedalaman hutan dimana per buruan hewan untuk dikonsumsi serta peperangan antar kelompok, diperkirakan telah muncul pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut dan berkembang hingga masa perundagian.
Hingga kini, sebagai perangkat adat, senjata sumpit masyarakat Dayak masih tetap lestari. Bahkan pada perkembangan di jaman sekarang, selain sebagai senjata, sumpit dibuatkan replikanya untuk kebutuhan kesenian dan wisata etnis. Oleh para seniman, sumpit dan kegiatan menyumpit ditransformasi ke dalam bentuk tarian. Sedangkan untuk para wisatawan, tersedia juga berbagai replika sumpit untuk cindera mata. Selain itu, keterampilan menyumpit dijadikan sebagai sebuah cabang olah raga yang diperlombakan, untuk fungsi-fungsi ini, keberadaan racun mematikan tentu saja disingkirkan.
Signifikansi Budaya
Senjata sumpit masyarakat Dayak bukanlah sekedar sebatang kayu yang bagian tengahnya dilubang Sumpit bukan juga sekedar senjata pembunuh. Terlebih dan semua itu, sumpit merupakan sebuah indigenous technology masyarakat Dayak yang dihasilkan dari proses persentuhan manusia dengan alam dan segala fenomenanya. Sumpit merupakan pengejawantahan pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan lokal yang berkembang dalam masyarakat Dayak
Secara garis besar, terdapat empat nilal luhur yang terkandung dalam sumpit, yaitu Perjuangan bertahan hidup (survival struggling), pemahaman terhadap kehidupan (understanding for natural life), keterampilan (skill), dan sakral (sacred values).
Perjuangan bertahan hidup (Survival Struggling) menuntut masyarakat Dayak untuk membuat senjata yang mampu menjangkau sasaran yang berada di atas pohon maupun yang berada di balik rerimbunan, Pemahaman terhadap kehidupan (Understanding for Natural Life) mengharuskan orang Dayak mengetahui dan memahami kondisi dan potensi alam yang mereka tempati. Racun yang digunakan untuk mengolesi damek, misalnya, merupakan bukti pemahaman mereka terhadap potensi yang dikandung oleh tumbuh-tumbuhan. Selain itu, dalam berburu mereka tetap mempertimbangkan kelestarian alam dan segala yang hidup di dalamnya. Hal ini misalnya dapat dilihat dari aturan tidak tertulis bahwa berburu hanya boleh dilakukan pada saat tertentu dengan tujuan tertentu, misalnya untuk lauk-pauk.
Agar senjata sumpit masyarakat Dayak dapat berfungsi secara maksimal, maka diperlukan keterampilan khusus sejak pembuatan sampai ketika menggunakannya. Pada tahap pembuatan misalnya, seseorang harus benar-benar ahli untuk membuat lubang lurus pada kayu. Jika lubang yang dibuat tidak lurus, maka sumpit yang dihasilkan tidak akan berfungsi secara maksimal. Demikian juga ketika hendak menggunakan sumpit, harus menguasai tehnik-tehnik khusus yang hanya dapat dilakukan dengan latihan-latihan. Dengan latihan-latihan tersebut, maka seseorang akan mempunyai keterampilan khusus.
Terakhir, ketika sebuah alat menjadi faktor determinan dalam kehidupan masyarakat, maka biasanya alat itu akan segera dikonstruksi menjadi benda sakral, demikian juga dengan sumpit. Jika pada awalnya sumpit diciptakan untuk berburu atau berperang, namun karena posisinya semakin determinan dalam kehidupan orang Dayak, maka ia lambat laun mempunyai nilai sakral. Hal ini misalnya dapat dilihat dari penggunaan senjata sumpit masyarakat Dayak sebagai pelengkap upacara dan bahkan mas kawin dalam sebuah pernikahan.




