Rabu, 24 November 2021

MENGENAL SENJATA TRADISONAL "MENYUMPIT"




Sumpit atau sumpitan atau juga di sebut sipet adalah senjata khas masyarakat Dayak yang cara menggunakannya dengan ditiup, terbuat dari kayu sepanjang 1-3 meter, terdiri dari tiga bagian, yaitu batang sumpit (berbentuk pipa), anak sumpit (damek) dengan racun pada matanya, dan mata tombak (sangkoh) terbuat dari logam atau batu gunung. Sangkoh ini dipasang di ujung batang sumpit dengan fungsi seperti sangkur pada senapan, yakni sebagal senjata cadangan yang dipergunakan pada pertempuran jarak dekat.


Boleh percaya atau tidak, Senjata yang mampu mencapai sasaran tembak hingga 200 meter ini lebih ditakuti daripada senjata api oleh Belanda pada jaman penjajahan dulu, sehingga karenanya pendudukan Belanda di pulau kalimantan hanya mencakup bebarapa wilayah kalimantan kota, dan tidak mampu menyentuh pedalaman Kalimantan di mana masyarakat Dayak tersebar. Senjata ini tidak menimbulkan kegaduhan sebagaimana umumnya senjata-senjata jarak jauh, baik saat ditembakkan maupun saat mengenai sasaran. Dengan racun mematikan, sumpit dirancang bukan sekedar untuk melumpuhkan sasaran tembak, melainkan untuk membunuh. Karena itulah pada masa Itu muncul julukan "pasukan hantu" bagi gerilyawan Dayak, dan sumpit itulah yang menjadi senjatanya.


Referensi tentang asal usul sumpit belum dapat dipastikan, namun dengan studi etnoarkeologi yang berkaitan dengan pola hidup di pedalaman hutan dimana per buruan hewan untuk dikonsumsi serta peperangan antar kelompok, diperkirakan telah muncul pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut dan berkembang hingga masa perundagian.


Hingga kini, sebagai perangkat adat, senjata sumpit masyarakat Dayak masih tetap lestari. Bahkan pada perkembangan di jaman sekarang, selain sebagai senjata, sumpit dibuatkan replikanya untuk kebutuhan kesenian dan wisata etnis. Oleh para seniman, sumpit dan kegiatan menyumpit ditransformasi ke dalam bentuk tarian. Sedangkan untuk para wisatawan, tersedia juga berbagai replika sumpit untuk cindera mata. Selain itu, keterampilan menyumpit dijadikan sebagai sebuah cabang olah raga yang diperlombakan, untuk fungsi-fungsi ini, keberadaan racun mematikan tentu saja disingkirkan.




Signifikansi Budaya
Senjata sumpit masyarakat Dayak bukanlah sekedar sebatang kayu yang bagian tengahnya dilubang Sumpit bukan juga sekedar senjata pembunuh. Terlebih dan semua itu, sumpit merupakan sebuah indigenous technology masyarakat Dayak yang dihasilkan dari proses persentuhan manusia dengan alam dan segala fenomenanya. Sumpit merupakan pengejawantahan pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan lokal yang berkembang dalam masyarakat Dayak


Secara garis besar, terdapat empat nilal luhur yang terkandung dalam sumpit, yaitu Perjuangan bertahan hidup (survival struggling), pemahaman terhadap kehidupan (understanding for natural life), keterampilan (skill), dan sakral (sacred values).


Perjuangan bertahan hidup (Survival Struggling) menuntut masyarakat Dayak untuk membuat senjata yang mampu menjangkau sasaran yang berada di atas pohon maupun yang berada di balik rerimbunan, Pemahaman terhadap kehidupan (Understanding for Natural Life) mengharuskan orang Dayak mengetahui dan memahami kondisi dan potensi alam yang mereka tempati. Racun yang digunakan untuk mengolesi damek, misalnya, merupakan bukti pemahaman mereka terhadap potensi yang dikandung oleh tumbuh-tumbuhan. Selain itu, dalam berburu mereka tetap mempertimbangkan kelestarian alam dan segala yang hidup di dalamnya. Hal ini misalnya dapat dilihat dari aturan tidak tertulis bahwa berburu hanya boleh dilakukan pada saat tertentu dengan tujuan tertentu, misalnya untuk lauk-pauk.


Agar senjata sumpit masyarakat Dayak dapat berfungsi secara maksimal, maka diperlukan keterampilan khusus sejak pembuatan sampai ketika menggunakannya. Pada tahap pembuatan misalnya, seseorang harus benar-benar ahli untuk membuat lubang lurus pada kayu. Jika lubang yang dibuat tidak lurus, maka sumpit yang dihasilkan tidak akan berfungsi secara maksimal. Demikian juga ketika hendak menggunakan sumpit, harus menguasai tehnik-tehnik khusus yang hanya dapat dilakukan dengan latihan-latihan. Dengan latihan-latihan tersebut, maka seseorang akan mempunyai keterampilan khusus.


Terakhir, ketika sebuah alat menjadi faktor determinan dalam kehidupan masyarakat, maka biasanya alat itu akan segera dikonstruksi menjadi benda sakral, demikian juga dengan sumpit. Jika pada awalnya sumpit diciptakan untuk berburu atau berperang, namun karena posisinya semakin determinan dalam kehidupan orang Dayak, maka ia lambat laun mempunyai nilai sakral. Hal ini misalnya dapat dilihat dari penggunaan senjata sumpit masyarakat Dayak sebagai pelengkap upacara dan bahkan mas kawin dalam sebuah pernikahan.

Senin, 22 November 2021

MIE PANJANG UMUR (MIE SUA) MAKANAN KHAS SINGKAWANG

SINGKAWANG, 31/5 - KULINER UNGGULAN. Seorang pekerja menjemur mie asin dari bahan gandum di Pabrik Mie Sua Bunga, di Jalan Kridasana, Singkawang, Kalbar, Senin (31/5). Mie asin dari buatan tangan yang sudah diproduksi selama 51 tahun tersebut, merupakan salah satu kuliner unggulan Kota Singkawang. FOTO ANTARA/Jessica Wuysang/Koz/ama/10.


    Makanan berbentuk adonan tipis panjang yang telah digulung, dikeringkan dan dimasak dalam air mendidih ini merupakan salah satu popular di kawasan Asia. Mie diperkirakan telah ada sejak 4.000 tahun lalu. Namun sejarah asal usul mie masih simpang siur. Bangsa Italia, Cina dan Arab masing-masing mengklaim sebagai pencipta mie. 

Menurut sejarah, mie pertama dibuat di daratan Cina saat zaman Dinasti Han pada tahun 25-200 AD. Mie kemudian berkembang ke negara-negara Asia Tenggara seperti Jepang, Korea dan Taiwan. Tak berhenti sampai di situ, setelah Marco Polo berkunjung ke Cina, ia membawa serta mie pulang ke Eropa sebagai oleh-oleh. Pada perkembangannya, mie yang dibawa Marco Polo ke Eropa berubah menjadi pasta seperti yang kita tahu saat ini.

Bagi bangsa Cina, mie adalah simbol kehidupan yang panjang. Bentuknya yang panjang dan tidak mudah putus adalah gambaran harapan umur panjang. Karenanya mie sering dijadikan sajian wajib pada acara ulang tahun atau tahun baru, sebagai lambang umur panjang Mie digunakan sebagai pengganti kue ulang tahun di China.

Awalnya, mie diproduksi manual berukuran lembaran-lembaran tipis panjang. Hinge baru pada tahun 700-an ditemukan mesin pembuat mie dengan alat mekanik. Perkembangan bangan metode pembuatan mie kemudian bergerak cepat setelah ditemukannya mesin produksi mie missal, Adalah T. Masuki yang berjasa membuat mesin pembuat mie mekanik pada tahun 1854. Penemuannya tersebut adalah cikal bakal mesin-mesin pembuat mie produksi missal kini.

Di pasaran, mie dibagi ke dalam 3 jenis berdasarkan tingkat kematangannya, yaitu mie kering, mie basah, dan mie instant. Sesuai namanya, mie basah dijual dalam keadaan basah. Mie basah adalah mie yang belum dimasak, memiliki kandungan air cukup tinggi yaitu sekitar 52%, cepat bas) dan hanya bisa bertahan satu hari. Mie basah biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan mie ayam.

Mie kering adalah mie yang dipasarkan dalam bentuk kering. Mie yang disebut juga me telur ini memiliki kandungan air rendah, hanya sekitar 13% Berbahan baku dasar telur dan tepung terigu mie kering proses pengolahannya dikeringkan dengan oven atau dijemur hingga kering sebelum dikemas dan dipasarkan. Mie jenis ini sering digunakan sebagai bahan baku mie rebus atau mie goreng.

Terakhir yaitu mie instant. Mie paling praktis dan paling popular ini sudah menjadi pelengkap wajih persediaan makanan masyarakat kini. Kandungan air yang hanya seki tar 5-8x membuatnya bisa awet lebih lama dibanding jenis mie lainnya. Mie instant sebenarnya adalah mie yang sudah matang, karena mie ini dikemas setelah proses pengeringan dengan digoreng atau dipanaskan. Pengolahannya sederhana, cukup dimak kan ke dalam air mendidih selama 4 menit dan Anda bisa menambahkan bumbu pelengkap lain sebagai penambah rasa.




Signifikasi Budaya
Mie Sua atau biasanya juga dikenal dengan sebutan Siu Mie termasuk kategori mie kering. Menurut kepercayaan etnis Tionghoa merupakan mie yang memberikan keberkahan. Mie Sua sendiri memiliki bentuk panjang yang mengisyaratkan kehidupan kekal serta memberikan usia panjang. Mie ini biasanya disajikan pada saat perayaan tertentu seperti Hari ulang tahun sanak saudara. Bentuk yang panjang itulah diharapkan keluarga yang merayakan bisa panjang umur seperti halnya panjang mie tersebut.

yang unik dan bernilai dari Mie Sua adalah dalam proses pembuatannya. Semua bahan itu dituang dalam satu tempat, kemudian dicampur menggunakan alat hingga menjadi adonan. Selanjutnya, adonan itu dipotong hingga menghasilkan mi yang panjang. panjang. Setelah itu, Mie Sua dijemur. Pemandangan Mie Sua dijemur inilah yang menjadi poin pentingnya karena pada saat itu jemuran Mie Sua tampak seperti tirai putih yang berayun-ayun ditiup angin.

Mie Sua juga semakin populer pada proses penyajiannya. Menjadi sarat tradisi saat disajikan pada momentum ulang tahun dan merakyat karena makanan ini dapat dinikmati disetiap waktu, disetiap tempat, dan harga yang terjangkau.


CAP GO MEH SINGKAWANG

 




    Pada zaman dahulu etnis Tionghoa dari China Selatan bermigrasi ke Kalimantan Barat, Awalnya pemukiman terbesar etnis Tionghoa di muara-muara sungai dan pesisir pantai Para imigran Tionghoa tersebut kebanyakan berasal dari suku Khek (Hakka). Pada tahun 1772 etnis Tlonghoa berkembang di daerah Monterado, Kalimantan Barat. Para imigran Tionghoa kebanyakan berkerja dipertambangan emas dan untuk melepas kepenatan selama bekerja, mereka membuat perkampungan khusus etnis Tionghoa di dekat muara sungai dan diberi nama San Keu Jong.


Suatu ketika diperkampungan Tionghoa tersebut terkena wabah penyakit dan pada saat itu belum ada dokter. Lalu warga Tionghoa berobat ke tabib/dukun yang menggunakan cara tradisional dan cara gaib. Mereka mengadakan ritual tolak bala (bahasa Khek; Ta Clau) bersama penduduk lokal. Hal itu dilakukan pada hari ke lima belas (dialek Hokkian; Cap Go) bulan pertama penanggalan Imlek. Karena dirasakan manfaat ritual dan wabah penyakit bisa diatasi dan mereka sembuh. 

Akhirnya ritual tolak bala ini dijadikan sebagai tradisi tahunan/turun temurun yang bertahan sampai saat ini dan dipadukan ke perayaan Imlek, yang diberi nama Cap Go Meh.

Cap Go artinya lima belas dan Meh artinya malam, arti keseluruhannya yaitu malam ke lima belas. Dan Cap Go Meh merupakan tradisi pada hari penghujung perayaan Imlek pada hari ke lima belas. Cap Go Meh adalah tradisi perayaan penutup Imlek. Tujuan diadakannya Tradisi ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah atau rejeki yang diberikan pada tahun ini dan sekaligus harapan agar musim berikutnya mem peroleh yang lebih baik.


Signifikansi Budaya
Perayaan Cap Go Meh sebagai penutup Tahun Baru Imlek dilaksanakan di setiap daerah dan negara oleh penganutnya. Ada yang melakukan syukuran, arak-arakan (barongsa) memasang lampion, dan atraksi kesenian rakyat. Perayaan Cap Go Meh selalu meriah d Singkawang, bahkan bisa dibilang yang paling meriah di antara daerah lain di Indonesa


Potret perayaan Cup Go Meh di Singkawang diramaikan dengan pertunjukan Barongsa, Ular Naga, Chol Lam Shin atau Keranjang Jelangkung, serta yang teristimewa yaitu atraksi tung atau Louy

Tatung atau Louya adalah media ritual Cap Go Meh untuk menangkal roh jahat dan membersihkan kota dan Vihara dari kejahatan dan nasib buruk. Pengusiran roh-roh jahat dan peniadaan kesialan dalam Cap Go Meh disimbolkan dalam pertun jukan Tatung. Tatung adalah media utama Cap Go Meh. Atraksi Tatung dipenuhi dengan mistik dan menegangkan, karena banyak orang kesurupan dan orang-orang Inilah yang disebut Tatung. Upacara pemanggilan Tatung dipimpin oleh pendeta yang sengaja mendatangkan roh orang yang sudah meninggal untuk merasuki Tatung.


Roh-roh yang dipanggil diyakini sebagai roh-roh baik yang mampu menangkal roh jahat yang hendak mengganggu keharmonisan hidup masyarakat. Roh-roh yang di panggil untuk dirasukkan ke dalam Tatung diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah bertobat dan orang suci lainnya. Roh-roh yang dipanggil dapat merasuki siapa saja, tergantung apakah para pemeran Tatung memenuhi syarat dalam tahapan yang ditentukan pendeta. Para Tatung diwajibkan berpuasa selama tiga hari sebelum hari perayaan yang maksudnya agar mereka berada dalam keadaan suci sebelum perayaan.


Cap Go Meh di Singkawang secara tidak langsung telah melahirkan akulturasi budaya karena banyak orang Dayak yang juga turut serta menjadi Tatung, mereka terdorong berpartisipasi karena ritual Tatung mirip upacara adat Dayak. Sejak pertama datang ke Singkawang masyarakat Tionghoa telah menjalin dan membina persahabatan erat dengan penduduk pribumi khususnya suku Dayak. Karena itu tidak ada kecanggungan di antara kedua etnis ini.


Sebelum parade Tatung dimulai, para Tatung dirasuki (di bawah alam sadar) oleh roh leluhur mereka kemudian mempertunjukkan ilmu kesaktiannya seperti menusuk pipi, kebal dengan senjata tajam, hingga aksi mengupas kelapa dengan gigi. Tatung itu sendiri merupakan perpaduan antara budaya Tiongkok dengan budaya Dayak.


Di era Orde Baru perayaan Imlek khususnya ritual Tatung dilarang dipertontonkan di depan umum. Tetapi di era reformasi mantan Presiden Gus Dur mengizinkan kembali, bahkan pemerintahan berikutnya Megawati Soekarnoputri mengesahkan dalam bentuk undang-undang. Dengan demikian warga Tionghoa di Singkawang khususnya menjadi lebih leluasa untuk menjalankan tradisi atau upacara keagamaan mereka. Di dunia pariwisata, keberadaan Tatung berpotensi untuk menarik turis dalam negeri dan mancanegara. Selain mengangkat nama Kota Singkawang di dunia internasional, Tatung juga ikut meningkatkan perekonomian daerah setempat.

Sabtu, 20 November 2021

ADAT MELAYU SAPRAHAN (MAKAN BERSAMA)

 

Tamu undangan tampak sedang bersiap menikmati hidangan ala Saprahan buah karya peserta lomba Besurong Saprah dalam rangka HUT Pemkot Singkawang yang ke-12 di tarup halaman belakang Kantor Walikota Singkawang, Kalimantan Barat (17/10/2013)(KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN)


"Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi"



Saprahan adalah salah satu tradisi masyarakat Melayu yang penuh dengan filosofi. Secara harfiah, Saprahan berhampar, suatu budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai secara berkelompok. Secara filosofi berarti sopan santun dalam beradab, kebersamaan yang tinggi atau gotong-royong. Tradisi mengandung semangat duduk sama rendah berdiri sama tinggi. 


Dalam tradisi ini ada tatacara khusus tak tertulis yang terdiri dari cara makan, menghidang, dan menu hidangan. Tradisi ini mengakar begitu kuatnya secara turun temurun karena tradisi ini dilakukan bersama banyak orang yang duduk di dalam satu barisan, saling berhadapan duduk satu kebersamaan.


Signifikansi Budaya
Dalam perspektif keagamaan, tradisi makan Saprahan dalam kehidupan masyarakat Sambas identik dengan agama Islam, yang mana kuat berpedoman pada 6 (enam) rukun Iman dan 5 (lima) rukun Islam. Makna bersaprah yang disantap oleh 6 (enam) orang setiap saprahannya diartikan dengan rukun Iman, dan lauk-pauknya yang dihidangkan biasanya 5 (lima) piring diartikan rukun Islam. Istimewanya, tidak ada perbedaan menu masakan untuk sajian saprahan antara rakyat biasa dengan pemimpin, semuanya sama saja.


Dalam perspektif sosial, tradisi makan Saprahan adalah kesederhanaan hidup yang diikat dengan rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi tanpa memandang status sosial, memupuk rasa solidaritas dan gotong royong, sebagai wahana interaksi dalam menyampaikan informasi, dan yang paling penting adalah menjaga serta melestarikan warisan budaya leluhur.


Dalam Perspektif Etika, tradisi saprahan memiliki tata cara tertentu dalam menyajikan hidangan. Baik dalam pengangkatan sajian maupun cara-cara menyodorkan saprahan, biasa penyurrung (tim penyaji) beranggotakan minimal 5 (lima) orang. Dari kelima orang tersebut mengambil bawaan masing-masing dan menyusun menurut tugasnya.


Mereka mengambil posisi secara berurutan, mulai dari memasuki ruangan, berjalan, duduk dan lain-lain. Sajian saprahan disampaikan secara sambung menyambung Besurrung diartikan sebagai pengangkat sajian tamu undangan yang sudah menunggu di atas tikar maupun permadani yang telah disediakan khusus untuk tamu.


Tradisi makan Saprahan terus dilestarikan dengan tujuan mempererat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat serta memupuk rasa bergotong royong. Atas dasar makna filosofisnya yang tinggi, dalam penyajian makanan pun dijadikan media pendidikan etika (table manner ala melayu).

Kamis, 18 November 2021

MENGENAL KERIANG BANDONG & TANGLONG

(Festival Bangunin Sahur, Photo By Fellimeido)


"Keriang adalah sejenis bintang yang mengeluarkan buny khas di malam hari.
Keriang suka dengan cahaya dan datang berbondong-bondong.
Mungkin dari situlah namanya diambil, jadi Keriang Bandong."


Keriang Bandong adalah permainan rakyat yang berupa penyalaan sejenis obor dari bambu kecil yang diberi sumbu dan diletakkan di halaman rumah-rumah pada malam hari sepanjang bulan Ramadhan. Tradisi ini muncul karena kondisi penerangan pada malam hari tidak seperti pada saat ini. Menurut legenda, penyalaan Keriang Bandong ini untuk menghalau gangguan dari makhluk halus, namun terlepas dari alasan mistis fungsi utama adalah untuk penerangan bahkan konon dengan cara demikian akan membuat riang anak-anak dan tidak menakutkan untuk jalan pulang ke rumah seusai shalat tarawih.

Sedangkan Tanglong tak ubahnya dengan lampion. Fungsinya sama saja, untuk penerangan. Akan tetapi dibuat sedemikian rupa sehingga menarik. Dibutuhkan kreatifi tas untuk membuatnya. Biasanya terbuat dari lidi sagu sehingga mudah ditekuk, atau bambu dan kertas minyak. Namun belakangan, kertas putih dan plastik aneka tan warna juga digunakan dalam pembuatannya. Bentuknya juga sangat beragam, seperti kelinci, pesawat, ikan, bunga mawar, burung Enggang, perahu Lancang Kuning dan banyak lagi. Zaman dahulu, Tanglong selalu diisi dengan lampu minyak. Saat ini untuk Tanglong kecil, bisa juga dipergunakan lilin sebagai penerangannya.

Oleh anak-anak, Keriang Bandong diarak, lalu diadu. Sembari berdendang lagu khusus. Tanglong yang kuat, dan tidak mengalami kerusakan parah-lah yang menjadi pemenangnya. Tradisi ini kian meredup seiring perubahan zaman dan anak-anak su dah tidak lagi Keriang Bandong sembari berdendang lagu khusus tersebut. Keriang Bandong kini lebih banyak dipajang dan sekadar menjadi hiasan yang disimpan di halaman rumah atau teras saat malamn likuran. Namun saying, saat ini sudah tidak banyak lagi warga yang membuatnya, kalau pun ada biasanya digang-gang lebih suka menggunakan lampu kelap kelip yang dirangkai membentuk suatu objek.

Signifikansi Budaya
Jika ditelisik dari bentuk dan namanya Tanglong bukan produk asli budaya Melayu, ini adalah akulturasi lampion dari masyarakat tionghoa.Fungsi Tanglong dipakai sebagai aksesori beranda dan halaman rumah. Sama dengan Keriang Bandong, Tanglong oleh masyarakat dewasa ini juga banyak dipasang saat malam likuranan menjadi mainan favorit anak-anak kampung di malam bulan puasa, khususnya malam 21 (likuran) sampai malam takbiran.

Menurut cerita ini dilakukan untuk menyambut kedatangan para malaikat yang turun dari langit, dengan kerlap-kerlip cahaya Keriang Bandong berharap agar para malaikat berkenan mencatat amal kita dimalam seribu bulan. Seiring berjalannya waktu, Keriang Bandong tak hanya mengandalkan bambu sebagai bahan utama dan bentuknya pun semakin indah. Ditambah dengan hiasan yang dibentuk dengan bahan dasar tambahan kertas minyak. Bentuk nya pun beragam, ada yang dibuat seperti ketupat dan lain-lain yang disebut dengan nama Tanglong.

Tanglong ini nama lain yang muncul karena modifikasi dari Keriang Bandong namun dalam penyebutan tetap bermakna sama. Bentuk Tanglong sendiri jika diperhatikan menyerupai lampion, dan seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa hal ini ini dipengaruhi masuknya budaya Tionghoa di Kalimantan Barat.

Jika meminjam istilah pujangga, Keriang Bandong telah menjelang senja, artinya tradisi ini mulai redup bahkan sirna. Wujudnya diganti dengan bentuk kekinian seperti lampu kerlap-kerlip. Namun tidak demikian di beberapa kampung dipinggiran kota, tradisi ini masih berlangsung meskipun tidah semeriah dulu. Untuk menghidupkan tradisi ini maka saat Ramdhan mulai digalakkan tradisi Keriang Bandong dan Tanglong dalam bentuk lomba dan festival.

MENGENAL SENJATA TRADISONAL "MENYUMPIT"

Sumpit atau sumpitan atau juga di sebut sipet adalah senjata khas masyarakat Dayak yang cara menggunakannya dengan ditiup, terbuat dari kayu...